Data geospasial memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu wilayah secara lebih lengkap karena informasi tidak hanya disajikan dalam bentuk angka dan tabel, tetapi juga memiliki dimensi lokasi. Namun, data spasial yang sangat lengkap belum tentu mudah dipahami oleh semua orang.

Seorang analis GIS mungkin dapat memahami layer, atribut, simbolisasi, sistem koordinat, serta analisis spasial dengan baik. Namun, pimpinan, masyarakat, pemangku kepentingan, atau pengguna non-GIS sering membutuhkan cara penyajian informasi yang lebih sederhana dan komunikatif.

Di sinilah konsep storytelling geospasial menjadi penting.

Storytelling geospasial menggabungkan peta, teks, gambar, grafik, video, dan informasi lokasi untuk membangun sebuah narasi. Tujuannya bukan sekadar menunjukkan lokasi suatu objek, tetapi menjelaskan apa yang terjadi, di mana terjadi, mengapa penting, bagaimana perkembangannya, dan apa yang dapat dipelajari dari informasi tersebut.

Salah satu platform yang dapat digunakan untuk kebutuhan tersebut adalah ArcGIS StoryMaps.

ArcGIS StoryMaps merupakan alat berbasis web untuk membuat dan membagikan cerita digital dengan menggabungkan peta, aplikasi, multimedia, dan narasi. Story dapat berisi teks, peta, gambar, video, tabel, grafik, serta berbagai elemen interaktif lainnya.

Melalui Pelatihan ArcGIS StoryMaps, peserta dapat mempelajari bagaimana mengubah data GIS menjadi cerita digital yang lebih menarik, informatif, interaktif, dan mudah dipahami oleh berbagai kelompok pengguna.

Apa Itu ArcGIS StoryMaps?

ArcGIS StoryMaps adalah platform untuk membuat digital storytelling berbasis lokasi.

Konsepnya sederhana. Data dan informasi geospasial tidak disajikan sebagai kumpulan layer saja, tetapi ditempatkan dalam sebuah alur cerita.

Sebagai contoh, sebuah organisasi ingin menjelaskan perubahan penggunaan lahan selama 10 tahun.

Daripada hanya memberikan peta tahun 2015 dan 2025, informasi dapat disusun menjadi sebuah cerita:

Kondisi Awal → Perubahan Wilayah → Faktor Penyebab → Dampak → Kondisi Sekarang → Rekomendasi

Setiap bagian dapat dilengkapi dengan:

  • Peta interaktif
  • Foto
  • Video
  • Grafik
  • Teks
  • Data statistik
  • Informasi lokasi
  • Ilustrasi
  • Timeline
  • Peta 3D

Dengan demikian, pembaca dapat mengikuti informasi secara bertahap.

Apa Itu Storytelling Geospasial?

Storytelling geospasial adalah pendekatan komunikasi yang menggunakan lokasi dan informasi geografis sebagai bagian utama dari sebuah narasi.

Konsep ini menggabungkan tiga unsur penting:

Data + Geografi + Cerita

Data memberikan fakta.

Geografi memberikan konteks lokasi.

Cerita memberikan alur sehingga informasi lebih mudah dipahami.

Contohnya, data kebencanaan dapat disajikan dalam bentuk cerita mengenai:

“Perubahan Risiko Banjir dan Dampaknya terhadap Wilayah Perkotaan.”

Cerita tersebut dapat dimulai dengan kondisi wilayah, dilanjutkan dengan peta daerah rawan, perubahan tutupan lahan, lokasi kejadian banjir, dampak terhadap fasilitas publik, hingga langkah mitigasi.

Informasi yang sebelumnya tersebar dalam banyak peta dan tabel dapat menjadi satu narasi yang terstruktur.Pelatihan ArcGIS: Panduan Lengkap untuk Pemetaan, Analisis Spasial, dan Pengelolaan Data Geospasial

Mengapa Storytelling Geospasial Penting?

Salah satu tantangan dalam komunikasi data adalah adanya kesenjangan antara orang yang membuat data dan orang yang menggunakan informasi.

Data GIS biasanya memiliki banyak detail teknis. Jika semua informasi ditampilkan sekaligus, pengguna dapat mengalami kesulitan memahami pesan utama.

Storytelling membantu menyederhanakan informasi tanpa menghilangkan konteks penting.

Storytelling geospasial dapat digunakan untuk:

  • Menjelaskan kondisi suatu wilayah
  • Menyampaikan hasil analisis
  • Mengkomunikasikan perubahan wilayah
  • Menjelaskan proyek pembangunan
  • Menampilkan hasil penelitian
  • Menyampaikan informasi kebencanaan
  • Mempresentasikan rencana tata ruang
  • Mendokumentasikan kegiatan lapangan
  • Mempromosikan potensi daerah
  • Menyampaikan laporan kepada pimpinan
  • Mengedukasi masyarakat

Dengan pendekatan ini, GIS tidak hanya menjadi alat analisis, tetapi juga menjadi alat komunikasi.

Perbedaan Peta Biasa dan StoryMap

Peta biasa dan StoryMap memiliki fungsi yang berbeda.

Aspek Peta Biasa ArcGIS StoryMaps
Fokus Informasi geografis Narasi berbasis lokasi
Konten Utamanya peta Peta, teks, foto, video, grafik
Alur cerita Terbatas Terstruktur
Interaksi Bergantung pada peta Dapat menggabungkan berbagai interaksi
Audiens Pengguna GIS dan umum Umum, manajemen, pemerintah, publik
Penyajian Kartografis Naratif dan visual
Dokumentasi Terbatas Sangat fleksibel
Komunikasi Informasi lokasi Informasi + konteks + cerita

Peta tetap menjadi komponen utama, tetapi StoryMap menambahkan konteks sehingga informasi lebih mudah dipahami.

Komponen Utama ArcGIS StoryMaps

ArcGIS StoryMaps menyediakan berbagai komponen untuk membangun sebuah cerita digital.

Teks

Teks digunakan untuk memberikan konteks, menjelaskan data, atau mengarahkan pembaca.

Teks sebaiknya singkat dan fokus pada pesan utama.

Peta

Peta merupakan salah satu elemen utama dalam StoryMaps.

Peta dapat digunakan untuk menunjukkan:

  • Lokasi
  • Distribusi
  • Perubahan
  • Pola
  • Hubungan antarwilayah
  • Kondisi geografis

ArcGIS StoryMaps mendukung berbagai bentuk peta, termasuk Web Map, Web Scene, express map, map tour, dan peta lain sesuai kebutuhan narasi.

Foto

Foto membantu memberikan gambaran nyata mengenai kondisi lapangan.

Misalnya dalam cerita pembangunan jalan, foto dapat menunjukkan kondisi sebelum dan sesudah pekerjaan.

Video

Video dapat digunakan untuk memperlihatkan kegiatan lapangan, wawancara, proses pekerjaan, atau kondisi wilayah.

Grafik

Grafik membantu menyederhanakan data statistik.

Misalnya:

  • Jumlah penduduk
  • Luas kawasan
  • Jumlah kejadian
  • Perubahan tutupan lahan
  • Jumlah proyek
  • Indikator pembangunan

Tabel

Tabel dapat digunakan untuk menyajikan data pendukung secara lebih detail.

Map Tour

Map tour dapat digunakan untuk menyajikan beberapa lokasi dalam satu cerita.

Contohnya dapat digunakan untuk:

  • Destinasi wisata
  • Lokasi proyek
  • Situs budaya
  • Fasilitas publik
  • Lokasi penelitian
  • Titik dokumentasi lapangan

Express Map dalam Storytelling Geospasial

Salah satu kemampuan yang menarik adalah express map.

Express map memungkinkan pengguna membuat peta sederhana langsung dalam lingkungan StoryMaps.

Pengguna dapat menambahkan:

  • Titik
  • Garis
  • Area
  • Pop-up
  • Anotasi

Express map cocok ketika peta yang dibutuhkan hanya berfungsi sebagai bagian dari narasi dan tidak memerlukan struktur Web Map yang kompleks.

Contohnya, sebuah cerita tentang jalur evakuasi dapat menggunakan express map untuk menggambarkan:

Titik Awal → Jalur Evakuasi → Lokasi Pengungsian

Dengan demikian, pembaca dapat memahami informasi geografis tanpa harus membuka aplikasi GIS yang kompleks.

Web Map dalam ArcGIS StoryMaps

Untuk kebutuhan yang lebih kompleks, Web Map dapat digunakan.

Web Map memungkinkan pengguna memasukkan layer dan konfigurasi peta yang telah disiapkan sebelumnya.

Misalnya, sebuah Web Map untuk cerita tentang perkembangan kota dapat berisi:

  • Batas administrasi
  • Jalan
  • Sungai
  • Bangunan
  • Tutupan lahan
  • Fasilitas publik
  • Kawasan pembangunan

StoryMap kemudian menjadi media untuk menjelaskan informasi tersebut dalam sebuah alur cerita.

Web Scene dan Visualisasi 3D

Storytelling tidak hanya terbatas pada peta 2D.

Untuk kebutuhan tertentu, Web Scene dapat digunakan untuk memberikan perspektif tiga dimensi.

Visualisasi 3D dapat bermanfaat untuk:

  • Perencanaan kawasan
  • Kota
  • Infrastruktur
  • Bangunan
  • Topografi
  • Tata ruang
  • Konstruksi
  • Lingkungan

Contohnya, cerita tentang transformasi kawasan perkotaan dapat menampilkan model 3D sebelum dan sesudah pembangunan.

Struktur StoryMap yang Efektif

StoryMap sebaiknya memiliki struktur yang jelas.

Struktur sederhana dapat berupa:

Pembuka → Latar Belakang → Kondisi Wilayah → Temuan Data → Analisis → Dampak → Solusi → Kesimpulan

Setiap bagian harus memiliki tujuan.

Pembuka

Menjelaskan topik dan menarik perhatian pembaca.

Latar Belakang

Memberikan konteks mengapa topik tersebut penting.

Kondisi Wilayah

Menampilkan kondisi geografis yang relevan.

Temuan

Menjelaskan informasi yang diperoleh dari data.

Analisis

Menjelaskan pola atau hubungan yang ditemukan.

Dampak

Menjelaskan konsekuensi dari kondisi tersebut.

Solusi

Menjelaskan pendekatan atau rekomendasi.

Kesimpulan

Merangkum pesan utama.

Struktur seperti ini membuat StoryMap terasa seperti cerita, bukan sekadar kumpulan peta.

Contoh Storytelling untuk Pemerintah Daerah

Pemerintah daerah memiliki banyak informasi yang dapat dikembangkan menjadi StoryMap.

Profil Wilayah

StoryMap dapat digunakan untuk memperkenalkan:

  • Letak geografis
  • Batas wilayah
  • Kondisi topografi
  • Penduduk
  • Infrastruktur
  • Potensi ekonomi
  • Pariwisata

Perencanaan Pembangunan

Cerita dapat menjelaskan:

Kondisi Awal → Permasalahan → Prioritas → Program → Lokasi → Target

Perubahan Wilayah

Dapat menampilkan perubahan:

  • Tutupan lahan
  • Permukiman
  • Infrastruktur
  • Kawasan industri
  • Ruang terbuka
  • Kawasan pesisir

Potensi Pariwisata

StoryMap dapat menampilkan lokasi destinasi dengan:

  • Foto
  • Peta
  • Deskripsi
  • Video
  • Informasi akses
  • Atraksi
  • Fasilitas

ArcGIS StoryMaps untuk Bappeda

Bappeda dapat memanfaatkan StoryMaps sebagai media komunikasi perencanaan pembangunan.

Misalnya, sebuah StoryMap dapat menjelaskan:

“Peta Prioritas Pembangunan Infrastruktur Daerah.”

Kontennya dapat terdiri dari:

  1. Gambaran kondisi daerah.
  2. Distribusi penduduk.
  3. Kondisi infrastruktur.
  4. Wilayah dengan akses rendah.
  5. Hasil analisis spasial.
  6. Lokasi prioritas.
  7. Program yang direncanakan.
  8. Target pembangunan.

Dengan format tersebut, hasil analisis GIS dapat dikomunikasikan kepada pihak yang tidak terbiasa menggunakan perangkat lunak GIS.

ArcGIS StoryMaps untuk Dinas PUPR

Dinas PUPR dapat menggunakan StoryMaps untuk dokumentasi dan komunikasi proyek.

Contohnya:

“Perkembangan Pembangunan Jalan X Tahun 2026.”

Isi StoryMap dapat meliputi:

  • Lokasi proyek
  • Kondisi awal
  • Peta trase
  • Foto lapangan
  • Tahapan pekerjaan
  • Progres
  • Kondisi terkini
  • Target penyelesaian

StoryMap dapat menjadi media pelaporan yang lebih visual dibandingkan laporan yang hanya berisi teks dan tabel.

StoryMaps untuk Kebencanaan

Informasi kebencanaan sangat cocok disajikan melalui storytelling geospasial karena kejadian bencana memiliki dimensi waktu dan lokasi.

StoryMap dapat menjelaskan:

  • Jenis bencana
  • Lokasi kejadian
  • Wilayah terdampak
  • Kronologi
  • Infrastruktur terdampak
  • Populasi terdampak
  • Respons darurat
  • Proses pemulihan
  • Mitigasi

Peta dapat digunakan untuk menunjukkan lokasi, sedangkan foto dan teks memberikan konteks kondisi lapangan.

StoryMaps untuk Lingkungan

Dalam bidang lingkungan, StoryMaps dapat digunakan untuk menjelaskan isu seperti:

  • Perubahan tutupan lahan
  • Deforestasi
  • Kerusakan kawasan pesisir
  • Perubahan garis pantai
  • Kualitas lingkungan
  • Konservasi
  • Restorasi ekosistem

Sebagai contoh, cerita perubahan tutupan hutan dapat menampilkan peta tahun berbeda secara berurutan sehingga pembaca dapat memahami perubahan secara visual.

StoryMaps untuk Pertanian dan Perkebunan

Data pertanian dapat dikomunikasikan melalui StoryMap dengan menggabungkan:

  • Peta lahan
  • Jenis tanaman
  • Produktivitas
  • Kondisi lahan
  • Curah hujan
  • Infrastruktur
  • Foto lapangan

Cerita dapat menjelaskan kondisi produksi dari suatu wilayah hingga faktor spasial yang memengaruhinya.

StoryMaps untuk Penelitian dan Akademik

Peneliti juga dapat memanfaatkan StoryMaps sebagai media untuk menyampaikan hasil penelitian.

Daripada hanya menyajikan hasil penelitian dalam bentuk dokumen panjang, informasi dapat dikomunikasikan melalui:

Pertanyaan Penelitian → Lokasi → Metode → Data → Hasil → Analisis → Kesimpulan

Peta dapat digunakan untuk menunjukkan lokasi penelitian, sementara grafik dan gambar dapat menjelaskan hasil analisis.

Pendekatan ini dapat membantu hasil penelitian menjangkau audiens yang lebih luas.

StoryMaps untuk Dokumentasi Kegiatan

StoryMaps juga dapat digunakan untuk dokumentasi kegiatan lapangan.

Contohnya:

  • Survei GIS
  • Surveyor
  • Drone mapping
  • Pemetaan fasilitas
  • Penelitian lingkungan
  • Kegiatan sosial
  • Monitoring proyek

Dokumentasi dapat disusun berdasarkan lokasi sehingga pembaca dapat mengikuti perjalanan kegiatan secara geografis.

Prinsip Komunikasi Data dalam StoryMaps

Storytelling geospasial bukan hanya tentang membuat tampilan yang menarik.

Ada beberapa prinsip komunikasi data yang perlu diperhatikan.

Fokus pada pesan utama

Setiap StoryMap harus memiliki pesan yang ingin disampaikan.

Gunakan data yang relevan

Jangan memasukkan semua data yang tersedia.

Berikan konteks

Peta tanpa penjelasan dapat sulit dipahami.

Gunakan visual secara proporsional

Gambar, grafik, dan peta harus membantu cerita.

Hindari informasi berlebihan

Terlalu banyak informasi dapat membuat pembaca kehilangan fokus.

Gunakan bahasa sederhana

Terutama jika audiens bukan pengguna GIS.

Alur Kerja Membuat ArcGIS StoryMaps

Workflow yang dapat digunakan adalah:

Tentukan Topik → Kenali Audiens → Tentukan Pesan → Kumpulkan Data → Siapkan Peta → Pilih Media → Susun Narasi → Bangun StoryMap → Tambahkan Interaksi → Uji → Publikasikan

Tahapan ini penting karena kualitas StoryMap sangat bergantung pada perencanaan cerita.

Persiapan Data Sebelum Membuat StoryMap

Data perlu dipersiapkan sebelum dimasukkan ke dalam StoryMap.

Beberapa aspek yang perlu diperiksa:

  • Akurasi data
  • Kelengkapan atribut
  • Sistem koordinat
  • Simbolisasi
  • Label
  • Pop-up
  • Sumber data
  • Tahun data
  • Metadata
  • Hak penggunaan data

Kualitas data menjadi dasar kualitas komunikasi.

StoryMap yang memiliki desain bagus tetapi menggunakan data yang tidak valid dapat menghasilkan informasi yang menyesatkan.

Memilih Jenis Peta yang Tepat

Jenis peta harus disesuaikan dengan tujuan cerita.

Tujuan Jenis Visualisasi
Menunjukkan lokasi Locator/Express Map
Menunjukkan banyak lokasi Map Tour
Menampilkan data tematik Web Map
Menjelaskan kondisi 3D Web Scene
Menjelaskan perubahan Peta multiwaktu
Menjelaskan rute Peta garis
Menjelaskan wilayah Peta area
Menampilkan lokasi kegiatan Point Map

Pemilihan jenis peta yang tepat membantu pembaca memahami pesan dengan lebih cepat.

StoryMap sebagai Media Komunikasi Instansi

Instansi pemerintah membutuhkan cara untuk menjelaskan program dan informasi kepada berbagai kelompok masyarakat.

Tidak semua masyarakat memahami istilah teknis seperti geodatabase, geoprocessing, overlay, raster, atau analisis spasial.

StoryMap dapat menjadi jembatan komunikasi.

Data teknis dapat diterjemahkan menjadi:

Peta + Narasi + Foto + Grafik + Informasi Ringkas

Hasilnya adalah komunikasi yang lebih mudah dipahami.

Hubungan StoryMaps dengan Infrastruktur Informasi Geospasial

Pemanfaatan storytelling geospasial juga sejalan dengan semakin berkembangnya ekosistem informasi geospasial di Indonesia.

Badan Informasi Geospasial memiliki berbagai platform dan layanan informasi geospasial, termasuk Ina Geoportal yang berfungsi sebagai geoportal nasional dan menghubungkan berbagai kementerian, lembaga, provinsi, serta daerah yang menjadi mitra simpul Jaringan Informasi Geospasial Nasional.

Selain itu, BIG memiliki Atlas Nasional Indonesia yang menyediakan berbagai bentuk informasi geografis dan bahkan menyediakan konten bertema Story Map.

Hal ini menunjukkan bahwa penyajian informasi geospasial tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan dan analisis data, tetapi juga bagaimana informasi tersebut dikomunikasikan kepada pengguna.

Pentingnya Sumber Data dan Referensi

Storytelling geospasial yang profesional harus mencantumkan sumber data.

Informasi seperti:

  • Sumber peta
  • Tahun data
  • Instansi penyedia
  • Metode pengumpulan
  • Sumber statistik
  • Sumber foto
  • Sumber citra

perlu dijelaskan secara proporsional.

Pencantuman sumber meningkatkan kredibilitas dan membantu pembaca memahami konteks informasi yang disajikan.

Desain StoryMap yang Efektif

Desain harus mendukung cerita.

Beberapa prinsip yang dapat diterapkan:

Gunakan hierarki visual

Judul dan informasi utama harus mudah ditemukan.

Gunakan gambar berkualitas

Gambar harus relevan dengan cerita.

Jangan memenuhi halaman

Berikan ruang yang cukup antara elemen.

Gunakan peta sebagai bagian dari narasi

Peta tidak harus muncul di setiap bagian.

Gunakan warna secara konsisten

Warna sebaiknya memiliki fungsi, misalnya membedakan kategori.

Perhatikan tampilan mobile

Banyak pengguna dapat mengakses StoryMap melalui smartphone.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Storytelling Geospasial

Beberapa kesalahan yang perlu dihindari:

  1. Cerita tidak memiliki tujuan yang jelas.
  2. Terlalu banyak teks.
  3. Terlalu banyak peta.
  4. Peta tidak memiliki konteks.
  5. Data tidak mencantumkan sumber.
  6. Grafik terlalu kompleks.
  7. Foto tidak relevan.
  8. Navigasi tidak jelas.
  9. Informasi teknis terlalu berat.
  10. Tidak menguji tampilan pada perangkat berbeda.
  11. Tidak memperhatikan urutan cerita.
  12. Menggunakan visual hanya sebagai dekorasi.

StoryMap yang efektif harus menjawab kebutuhan pembaca, bukan hanya menunjukkan kemampuan teknis pembuatnya.

Materi Pelatihan ArcGIS StoryMaps

Materi pelatihan dapat disusun dari dasar hingga implementasi.

Materi Pokok Pembahasan
Konsep Storytelling Prinsip komunikasi berbasis lokasi
StoryMaps Pengenalan platform
Struktur Cerita Menentukan alur narasi
Web Map Integrasi peta
Express Map Membuat peta sederhana
Map Tour Storytelling berbasis lokasi
Web Scene Visualisasi 3D
Multimedia Foto, video, dan media
Grafik & Tabel Komunikasi data
Layout Struktur dan desain
Interaksi Elemen interaktif
Sumber Data Kredibilitas dan atribusi
Responsive Design Tampilan desktop dan mobile
Publishing Publikasi dan berbagi
Studi Kasus Implementasi sesuai kebutuhan

Materi dapat disesuaikan dengan kebutuhan instansi dan jenis data yang digunakan peserta.

Manfaat Mengikuti Pelatihan ArcGIS StoryMaps

Melalui pelatihan, peserta dapat meningkatkan kemampuan dalam:

  • Membuat storytelling geospasial
  • Menyusun narasi berbasis lokasi
  • Membuat peta interaktif
  • Mengintegrasikan multimedia
  • Menggunakan Web Map
  • Membuat express map
  • Menyusun map tour
  • Menampilkan grafik dan tabel
  • Menyusun struktur informasi
  • Mendesain komunikasi data
  • Membuat presentasi berbasis lokasi
  • Mempublikasikan informasi geospasial

Bagi organisasi, kemampuan tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas komunikasi informasi spasial.

Siapa yang Cocok Mengikuti Pelatihan?

Pelatihan ArcGIS StoryMaps cocok untuk:

  • ASN
  • Bappeda
  • Dinas PUPR
  • OPD
  • Dinas teknis
  • GIS Analyst
  • GIS Specialist
  • Surveyor
  • Perencana wilayah
  • Pengelola data
  • Peneliti
  • Akademisi
  • Konsultan GIS
  • Pengelola informasi publik
  • Tim komunikasi
  • BUMN
  • Perusahaan swasta

Pelatihan juga cocok bagi peserta yang memiliki kemampuan GIS tetapi ingin meningkatkan kemampuan dalam menyampaikan hasil analisis kepada audiens non-teknis.

Storytelling Geospasial untuk Pengambilan Keputusan

Walaupun StoryMaps lebih dikenal sebagai media komunikasi, informasi yang disajikan juga dapat membantu proses pengambilan keputusan.

Contohnya, sebuah StoryMap pembangunan daerah dapat memperlihatkan:

  • Kondisi awal
  • Permasalahan
  • Hasil analisis spasial
  • Wilayah prioritas
  • Program
  • Dampak
  • Target

Pimpinan dapat memahami konteks secara lebih cepat karena data tidak disajikan secara terpisah.

Storytelling yang baik membuat informasi menjadi lebih mudah diikuti sehingga membantu proses diskusi dan evaluasi.

Masa Depan Komunikasi Data Geospasial

Perkembangan GIS menunjukkan bahwa komunikasi data semakin penting.

Data spasial tidak hanya akan digunakan oleh analis GIS, tetapi juga oleh:

  • Pimpinan
  • Pengambil kebijakan
  • Masyarakat
  • Investor
  • Peneliti
  • Media
  • Organisasi
  • Dunia pendidikan

Karena itu, kemampuan menerjemahkan data teknis menjadi informasi yang komunikatif akan semakin dibutuhkan.

Storytelling geospasial menjadi salah satu pendekatan yang dapat menjembatani kebutuhan tersebut.

Kesimpulan

Pelatihan ArcGIS StoryMaps merupakan program yang tepat bagi organisasi yang ingin meningkatkan kemampuan dalam mengubah data geospasial menjadi cerita digital yang informatif, interaktif, dan mudah dipahami.

ArcGIS StoryMaps memungkinkan peta, teks, foto, video, grafik, tabel, dan berbagai konten lainnya digabungkan dalam sebuah narasi berbasis lokasi. Pendekatan ini membuat informasi GIS dapat dikomunikasikan kepada audiens yang lebih luas, termasuk pengguna yang tidak memiliki latar belakang teknis GIS.

Penerapannya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari profil wilayah, pembangunan daerah, tata ruang, kebencanaan, lingkungan, pertanian, perkebunan, pariwisata, penelitian, dokumentasi proyek, hingga komunikasi hasil analisis spasial.

Keberhasilan StoryMap tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis menggunakan platform. Peserta juga perlu memahami cara menentukan audiens, memilih data, menyusun alur cerita, memilih visualisasi, memberikan konteks, dan menyampaikan pesan secara sederhana.

Dengan kemampuan tersebut, GIS dapat berkembang dari sekadar teknologi pemetaan menjadi media komunikasi informasi geospasial yang mampu menjelaskan kondisi wilayah, perubahan, permasalahan, potensi, dan hasil pembangunan secara lebih menarik dan mudah dipahami.

FAQ

Apa itu ArcGIS StoryMaps?

ArcGIS StoryMaps adalah platform berbasis web untuk membuat cerita digital yang menggabungkan peta, data, teks, gambar, video, grafik, dan konten multimedia lainnya dalam sebuah narasi.

Apa manfaat ArcGIS StoryMaps untuk instansi pemerintah?

StoryMaps dapat digunakan untuk menyampaikan informasi pembangunan, profil wilayah, kebencanaan, tata ruang, lingkungan, infrastruktur, pariwisata, dan hasil analisis spasial secara lebih komunikatif kepada pimpinan maupun masyarakat.

Apakah harus bisa coding untuk membuat ArcGIS StoryMaps?

Tidak. StoryMaps menyediakan lingkungan pembuatan konten berbasis konfigurasi sehingga banyak kebutuhan storytelling dapat dibuat tanpa membangun aplikasi web dari awal menggunakan coding.

Apakah Pelatihan ArcGIS StoryMaps bisa dilakukan secara In-House?

Ya. Materi dapat disesuaikan dengan kebutuhan instansi, termasuk penggunaan data internal, studi kasus wilayah, dokumentasi kegiatan, hasil analisis GIS, serta kebutuhan komunikasi organisasi.

Tingkatkan Kemampuan Storytelling dan Komunikasi Data Geospasial

Daftar sekarang dan jadwalkan pelatihan terbaik untuk instansi Anda!

0822-8654-5726
www.studigis.com

author-avatar

Tentang STUDIGIS

PT. Pusat Studi dan Konsultasi Nasional adalah perusahaan nasional yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM), teknologi informasi dan Pelatihan GIS, berkedudukan di Jakarta Pusat. Sejak awal berdiri, perusahaan ini memiliki komitmen kuat untuk mendukung peningkatan kualitas dan kapasitas individu maupun organisasi melalui pelatihan profesional, pendampingan teknis, serta konsultasi strategis.