Pemanfaatan GIS dalam Monitoring Lingkungan untuk Capaian SDGs 13
Isu perubahan iklim semakin menjadi perhatian global. Indonesia sebagai negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim menghadapi berbagai tantangan mulai dari kenaikan permukaan air laut, deforestasi, polusi udara, hingga bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), isu ini terangkum dalam SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim. Untuk memastikan target tercapai, diperlukan instrumen monitoring yang mampu menyajikan data akurat, terkini, dan mudah dipahami.
Salah satu teknologi yang kini diandalkan adalah Geographic Information System (GIS). Pemanfaatan GIS memungkinkan analisis spasial terkait perubahan lingkungan, sehingga menjadi dasar penting dalam perumusan kebijakan mitigasi dan adaptasi iklim.
Artikel ini membahas bagaimana GIS dimanfaatkan untuk monitoring lingkungan demi mendukung capaian SDGs 13 di Indonesia, sekaligus memperkuat topik utama dalam [Bimtek Pemanfaatan GIS 2025: dalam Evaluasi Capaian Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Pentingnya Monitoring Lingkungan dalam SDGs 13
Monitoring lingkungan berperan untuk:
-
Mengidentifikasi tren perubahan iklim.
-
Memantau kualitas udara, air, dan tanah.
-
Menentukan wilayah rawan bencana iklim.
-
Menyediakan basis data untuk mitigasi dan adaptasi.
Tanpa data yang terintegrasi, kebijakan iklim seringkali tidak tepat sasaran. GIS hadir sebagai jawaban karena mampu menggabungkan data spasial dengan analisis multidimensi.
Peran GIS dalam Monitoring Lingkungan
GIS memiliki fungsi strategis dalam mendukung capaian SDGs 13, antara lain:
-
Pemetaan Risiko Iklim
GIS dapat memetakan wilayah dengan risiko tinggi terhadap banjir, kekeringan, atau kebakaran hutan. -
Pemantauan Kualitas Udara
Sensor udara dan citra satelit yang dipadukan dengan GIS dapat menunjukkan konsentrasi polutan di wilayah perkotaan. -
Analisis Perubahan Tutupan Lahan
Data satelit yang diolah dengan GIS membantu memantau deforestasi, degradasi hutan, dan urbanisasi. -
Perencanaan Tata Ruang Adaptif
GIS mendukung perencanaan tata ruang yang memperhitungkan dampak perubahan iklim. -
Integrasi Data Multisektor
GIS dapat menggabungkan data lingkungan dengan data sosial-ekonomi untuk strategi mitigasi yang lebih holistik.
Studi Kasus Pemanfaatan GIS di Indonesia
1. Monitoring Deforestasi di Kalimantan
GIS digunakan untuk memantau laju deforestasi di Kalimantan. Data spasial menunjukkan pola penebangan hutan ilegal dan konversi lahan untuk perkebunan sawit. Informasi ini menjadi dasar penegakan hukum serta strategi konservasi.
2. Pemantauan Kualitas Udara di Jakarta
Dengan bantuan sensor dan GIS, DKI Jakarta mampu menyajikan peta kualitas udara harian. Data ini ditampilkan melalui dashboard interaktif agar masyarakat dapat memantau kondisi udara secara real-time.
3. Pemetaan Risiko Banjir di Semarang
GIS digunakan untuk memodelkan daerah rawan banjir rob. Data ini membantu pemerintah kota merancang infrastruktur tanggul laut dan sistem drainase perkotaan.
Daftar Poin: Keunggulan GIS untuk Monitoring Lingkungan
-
Data spasial yang akurat dan terintegrasi.
-
Analisis tren perubahan iklim secara historis dan prediktif.
-
Visualisasi data dalam bentuk peta tematik yang mudah dipahami.
-
Integrasi data multisumber (sensor, satelit, survei lapangan).
-
Mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti spasial.
Tabel: Keterkaitan GIS dengan Indikator SDGs 13
| Indikator SDGs 13 | Peran GIS | Contoh Implementasi |
|---|---|---|
| Peningkatan kapasitas adaptasi | Analisis kerentanan wilayah | Pemetaan daerah rawan banjir |
| Pengurangan emisi | Monitoring polusi udara | Peta distribusi polutan perkotaan |
| Mitigasi perubahan iklim | Analisis perubahan tutupan lahan | Monitoring deforestasi |
| Peningkatan kesadaran masyarakat | Visualisasi data spasial | Dashboard lingkungan interaktif |

Pemanfaatan GIS dalam monitoring lingkungan mendukung pencapaian SDGs 13 melalui analisis spasial perubahan iklim dan pengelolaan berkelanjutan.
Tantangan Pemanfaatan GIS untuk SDGs 13
Meskipun potensial, ada beberapa kendala dalam pemanfaatan GIS:
-
Keterbatasan Data: Beberapa daerah belum memiliki data lingkungan yang lengkap.
-
SDM Terbatas: Penguasaan GIS di tingkat daerah masih rendah.
-
Akses Teknologi: Infrastruktur teknologi informasi belum merata.
Solusi:
-
Meningkatkan kapasitas melalui [Bimtek Pemanfaatan GIS 2025: dalam Evaluasi Capaian Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)](Bimtek Pemanfaatan GIS 2025:dalam Evaluasi Capaian Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)).
-
Kolaborasi lintas sektor (pemerintah, universitas, NGO, masyarakat).
-
Pemanfaatan teknologi cloud GIS untuk kemudahan akses data.
Dukungan Pemerintah Indonesia
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) aktif menggunakan data spasial dalam monitoring perubahan iklim. Informasi resmi dapat diakses melalui KLHK yang menjadi sumber rujukan terkait kebijakan lingkungan nasional.
Kebijakan ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi karbon dan memperkuat adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
FAQ
1. Bagaimana GIS membantu monitoring lingkungan?
GIS memungkinkan analisis spasial terkait kualitas udara, perubahan lahan, hingga risiko bencana iklim secara lebih akurat.
2. Apakah GIS hanya digunakan oleh pemerintah?
Tidak. Akademisi, NGO, dan swasta juga dapat memanfaatkan GIS untuk riset maupun strategi lingkungan.
3. Apa hubungan GIS dengan SDGs 13?
GIS berperan sebagai instrumen utama untuk memonitor capaian target penanganan perubahan iklim.
4. Bagaimana masyarakat bisa ikut serta?
Masyarakat dapat mengakses data lingkungan berbasis GIS yang disediakan pemerintah dan mendukung aksi ramah lingkungan.
Penutup
Pemanfaatan GIS dalam monitoring lingkungan menjadi kunci penting dalam mendukung capaian SDGs 13 di Indonesia. Dengan analisis spasial, data lingkungan dapat divisualisasikan secara akurat dan mudah dipahami, sehingga kebijakan perubahan iklim dapat lebih tepat sasaran.
Segera tingkatkan kapasitas melalui pelatihan GIS untuk memastikan pembangunan berkelanjutan yang tangguh menghadapi perubahan iklim.