Bimtek Drone Mapping merupakan program pelatihan yang membahas pemanfaatan drone untuk kegiatan survei, pemetaan, fotogrametri, pengolahan foto udara, hingga menghasilkan berbagai produk data geospasial seperti orthomosaic, point cloud, Digital Surface Model atau DSM, Digital Terrain Model atau DTM, kontur, dan model tiga dimensi.

Perkembangan teknologi drone membuat kegiatan pemetaan menjadi semakin efisien untuk berbagai kebutuhan. Drone dapat digunakan untuk memperoleh foto udara dengan detail tinggi pada wilayah tertentu, kemudian data tersebut diproses menggunakan metode fotogrametri untuk menghasilkan informasi spasial yang dapat dianalisis lebih lanjut.

Teknologi ini telah digunakan dalam berbagai sektor, seperti konstruksi, pertambangan, perkebunan, pertanian, kehutanan, infrastruktur, pemerintahan, topografi, lingkungan, hingga pengelolaan aset.

Bagi organisasi yang membutuhkan data spasial beresolusi tinggi, Bimtek Drone Mapping untuk Pemetaan, Orthomosaic, DSM, DTM, dan Perhitungan Volume dapat menjadi salah satu pilihan pengembangan kompetensi yang relevan.

Drone Mapping juga merupakan bagian dari perkembangan teknologi geospasial yang lebih luas. Kompetensi tersebut dapat dikembangkan bersama GIS, Remote Sensing, GeoAI, 3D GIS, Digital Twin, WebGIS, Smart City, dan Spatial Data Science melalui Bimtek GIS 2026–2027: GIS Dasar, Advanced GIS, Remote Sensing, Drone Mapping, GeoAI, 3D GIS, Digital Twin, WebGIS, Smart City, dan Spatial Data Science.

Apa Itu Drone Mapping?

Drone Mapping adalah kegiatan pengumpulan data udara menggunakan drone yang dilengkapi kamera atau sensor tertentu untuk menghasilkan informasi spasial.

Drone melakukan penerbangan mengikuti jalur yang telah direncanakan. Kamera mengambil sejumlah foto udara dengan tingkat overlap tertentu.

Foto-foto tersebut kemudian diproses menggunakan software fotogrametri.

Secara sederhana, workflow Drone Mapping dapat digambarkan sebagai:

Perencanaan → Penerbangan → Akuisisi Foto → Quality Control → Fotogrametri → Orthomosaic/DSM/DTM → Analisis GIS

Tahapan tersebut harus dilakukan secara sistematis agar produk akhir memiliki kualitas yang sesuai dengan kebutuhan.

Mengapa Drone Mapping Penting?

Drone memiliki beberapa keunggulan untuk kegiatan pemetaan pada wilayah tertentu.

Beberapa manfaatnya antara lain:

  • Menghasilkan data beresolusi tinggi.
  • Dapat digunakan pada area yang relatif sulit dijangkau.
  • Waktu akuisisi dapat direncanakan.
  • Mendukung monitoring berkala.
  • Menghasilkan data 2D dan 3D.
  • Mendukung perhitungan volume.
  • Dapat diintegrasikan dengan GIS.
  • Mendukung dokumentasi kondisi lapangan.
  • Dapat digunakan untuk monitoring progres pekerjaan.

Dibandingkan metode pemetaan konvensional pada kondisi tertentu, drone dapat menjadi alternatif untuk memperoleh data detail secara lebih cepat.

Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada perencanaan penerbangan, kualitas perangkat, kondisi lingkungan, pengaturan kamera, metode pengukuran kontrol, dan proses pengolahan data.

Konsep Dasar Fotogrametri

Fotogrametri merupakan metode untuk memperoleh informasi geometrik dari foto.

Dalam Drone Mapping, sejumlah foto udara yang memiliki overlap diproses untuk menemukan titik-titik yang sama pada beberapa foto.

Software kemudian dapat membangun representasi tiga dimensi berdasarkan hubungan antarfoto dan informasi posisi kamera.

Proses fotogrametri umumnya mencakup:

  1. Import foto.
  2. Image alignment.
  3. Tie point generation.
  4. Camera optimization.
  5. Dense point cloud.
  6. Mesh atau surface model.
  7. Orthomosaic.
  8. DSM.
  9. DTM.
  10. Produk turunan lainnya.

Pemahaman terhadap konsep ini penting agar peserta tidak hanya mengetahui cara menggunakan software, tetapi juga memahami bagaimana data drone diubah menjadi produk pemetaan.

Perencanaan Penerbangan Drone

Salah satu bagian terpenting dalam Drone Mapping adalah flight planning.

Penerbangan yang tidak direncanakan dengan baik dapat menghasilkan foto yang kurang sesuai sehingga memengaruhi proses fotogrametri.

Beberapa parameter yang perlu diperhatikan:

  • Area pemetaan.
  • Ketinggian penerbangan.
  • Ground Sampling Distance atau GSD.
  • Front overlap.
  • Side overlap.
  • Kecepatan drone.
  • Jalur penerbangan.
  • Kondisi cuaca.
  • Waktu penerbangan.
  • Batas wilayah.
  • Hambatan di sekitar area.

Perencanaan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan pemetaan.

Memahami Ground Sampling Distance atau GSD

GSD adalah ukuran representasi suatu piksel pada permukaan tanah.

Semakin kecil nilai GSD, umumnya semakin tinggi tingkat detail spasial yang dapat diperoleh.

Namun, GSD bukan satu-satunya indikator kualitas pemetaan.

Faktor lain seperti:

  • Kualitas kamera.
  • Kualitas lensa.
  • Ketinggian penerbangan.
  • Kondisi cahaya.
  • Stabilitas drone.
  • Overlap.
  • Metode kontrol tanah.

juga memengaruhi hasil akhir.

Karena itu, peserta perlu memahami hubungan antara kebutuhan output dan parameter penerbangan.

Front Overlap dan Side Overlap

Overlap merupakan bagian foto yang saling tumpang tindih.

Dua jenis overlap yang umum diperhatikan adalah:

  • Front overlap, yaitu overlap antarfoto dalam arah penerbangan.
  • Side overlap, yaitu overlap antarjalur penerbangan.

Overlap diperlukan agar software fotogrametri dapat menemukan hubungan antara foto.

Jika overlap terlalu rendah, proses alignment dapat mengalami masalah pada area tertentu.

Nilai overlap harus disesuaikan dengan jenis proyek, karakteristik medan, kamera, dan workflow pengolahan.

Ground Control Point atau GCP

Ground Control Point atau GCP merupakan titik kontrol di lapangan yang mempunyai koordinat diketahui dan digunakan untuk membantu meningkatkan ketepatan posisi hasil pemetaan.

GCP biasanya ditandai dengan target yang mudah dikenali pada foto udara.

Koordinat GCP dapat diperoleh menggunakan metode survei yang sesuai.

Fungsi GCP antara lain:

  • Membantu georeferencing.
  • Meningkatkan ketelitian posisi.
  • Menjadi kontrol terhadap hasil fotogrametri.
  • Membantu proses validasi.

Dalam proyek tertentu, kebutuhan GCP dapat berbeda tergantung metode akuisisi dan teknologi positioning yang digunakan.

RTK dan PPK dalam Drone Mapping

Perkembangan drone pemetaan menghadirkan teknologi positioning seperti RTK dan PPK.

RTK atau Real-Time Kinematic memungkinkan drone memperoleh koreksi posisi secara real time dengan dukungan sistem referensi tertentu.

PPK atau Post-Processed Kinematic melakukan proses koreksi setelah penerbangan.

Teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas informasi posisi foto.

Namun, penggunaan RTK atau PPK bukan berarti menghilangkan kebutuhan terhadap quality control. Pengguna tetap perlu melakukan pemeriksaan hasil dan menggunakan titik kontrol atau titik pemeriksaan sesuai kebutuhan proyek.

Orthomosaic dalam Drone Mapping

Orthomosaic merupakan salah satu produk utama dari pengolahan foto drone.

Orthomosaic adalah gabungan banyak foto yang telah diproses secara geometris sehingga menghasilkan citra mosaik yang memiliki referensi spasial.

Orthomosaic dapat digunakan untuk:

  • Pemetaan detail.
  • Digitasi objek.
  • Monitoring proyek.
  • Pemetaan lahan.
  • Inventarisasi aset.
  • Monitoring pertanian.
  • Pemetaan kawasan.

Orthomosaic dapat diintegrasikan dengan GIS untuk analisis lebih lanjut.

Digital Surface Model atau DSM

DSM merupakan model yang merepresentasikan permukaan termasuk objek yang berada di atas tanah.

Objek seperti:

  • Bangunan.
  • Pohon.
  • Infrastruktur.
  • Timbunan material.

dapat muncul dalam DSM.

DSM dapat digunakan untuk:

  • Analisis elevasi permukaan.
  • Visualisasi 3D.
  • Analisis ketinggian.
  • Perhitungan volume.
  • Analisis terrain tertentu.

Digital Terrain Model atau DTM

DTM berusaha merepresentasikan permukaan tanah atau terrain tanpa objek permukaan seperti bangunan dan vegetasi, sesuai metode ekstraksi yang digunakan.

DTM sangat penting dalam pekerjaan topografi dan analisis medan.

DTM dapat digunakan untuk:

  • Kontur.
  • Analisis kemiringan.
  • Analisis elevasi.
  • Perencanaan jalan.
  • Perencanaan drainase.
  • Analisis topografi.

Perbedaan DSM dan DTM perlu dipahami karena keduanya memiliki fungsi berbeda.

Produk Representasi
Orthomosaic Citra permukaan yang telah dikoreksi
Point Cloud Kumpulan titik 3D
DSM Permukaan termasuk objek di atas tanah
DTM Permukaan terrain/tanah
Contour Garis yang menghubungkan elevasi tertentu
Mesh Model permukaan 3D

Point Cloud dalam Fotogrametri

Point cloud adalah kumpulan titik tiga dimensi yang dihasilkan dari proses fotogrametri.

Setiap titik dapat mempunyai informasi posisi dan karakteristik tertentu.

Point cloud dapat digunakan untuk:

  • Pemodelan 3D.
  • Analisis topografi.
  • Ekstraksi permukaan.
  • Perhitungan volume.
  • Monitoring perubahan.
  • Analisis struktur.

Point cloud menjadi salah satu output penting dalam workflow fotogrametri modern.

Perhitungan Volume Menggunakan Drone

Salah satu penggunaan Drone Mapping yang populer adalah perhitungan volume.

Teknik ini banyak digunakan pada:

  • Stockpile.
  • Timbunan tanah.
  • Material tambang.
  • Quarry.
  • Area cut and fill.
  • Timbunan konstruksi.

Prinsipnya adalah membuat model permukaan dari hasil pemetaan kemudian menghitung volume terhadap bidang referensi atau permukaan pembanding.

Workflow sederhananya:

Penerbangan → Foto Udara → Fotogrametri → Point Cloud → Surface Model → Boundary Area → Volume Calculation

Akurasi hasil sangat dipengaruhi oleh kualitas data dan metode penentuan permukaan dasar.

Contoh Kasus Perhitungan Volume Stockpile

Sebuah perusahaan pertambangan memiliki beberapa stockpile yang perlu dihitung secara berkala.

Metode pengukuran dengan drone dapat dilakukan dengan tahapan:

  1. Menentukan area stockpile.
  2. Merencanakan jalur penerbangan.
  3. Menentukan parameter GSD dan overlap.
  4. Menyiapkan titik kontrol atau metode positioning yang sesuai.
  5. Melakukan penerbangan.
  6. Memeriksa kualitas foto.
  7. Memproses foto menggunakan software fotogrametri.
  8. Menghasilkan point cloud dan surface model.
  9. Menentukan boundary stockpile.
  10. Menentukan reference surface.
  11. Menghitung volume.
  12. Membandingkan hasil antarperiode.

Hasil tersebut dapat digunakan untuk monitoring perubahan volume material.

Cut and Fill Analysis

Selain menghitung volume stockpile, Drone Mapping dapat digunakan untuk analisis cut and fill.

Cut and Fill digunakan untuk membandingkan dua permukaan atau membandingkan kondisi aktual dengan permukaan rencana.

Analisis dapat digunakan dalam:

  • Pekerjaan tanah.
  • Konstruksi jalan.
  • Pembangunan kawasan.
  • Perataan lahan.
  • Proyek infrastruktur.

Hasilnya dapat menunjukkan area yang mengalami:

  • Cut.
  • Fill.
  • Net volume.
  • Perubahan elevasi.

Informasi tersebut dapat membantu proses monitoring pekerjaan tanah.

Monitoring Progres Konstruksi

Drone dapat digunakan untuk memperoleh dokumentasi udara secara berkala.

Misalnya proyek pembangunan jalan atau gedung dipetakan setiap minggu.

Data tersebut dapat digunakan untuk:

  • Membandingkan kondisi antarperiode.
  • Mengukur perkembangan pekerjaan.
  • Mendokumentasikan kondisi lapangan.
  • Memeriksa area tertentu.
  • Menghasilkan model 3D.

Jika diintegrasikan dengan GIS, data monitoring dapat ditampilkan berdasarkan lokasi.

Drone Mapping untuk Infrastruktur

Drone Mapping dapat diterapkan dalam pemetaan berbagai infrastruktur.

Contohnya:

  • Jalan.
  • Jembatan.
  • Bendungan.
  • Gedung.
  • Saluran drainase.
  • Kawasan industri.
  • Pelabuhan.
  • Infrastruktur utilitas.

Drone dapat memberikan perspektif udara yang membantu proses dokumentasi dan inspeksi visual.

Namun, untuk inspeksi struktural yang membutuhkan pengujian khusus, drone sebaiknya digunakan sebagai salah satu sumber informasi dan tetap dikombinasikan dengan metode inspeksi yang sesuai.

Drone Mapping untuk Pertanian

Pada sektor pertanian, drone dapat digunakan untuk pemetaan lahan secara detail.

Data yang dihasilkan dapat membantu:

  • Pemetaan batas lahan.
  • Monitoring tanaman.
  • Analisis kondisi vegetasi.
  • Perencanaan irigasi.
  • Monitoring perubahan lahan.
  • Dokumentasi kondisi tanaman.

Jika drone menggunakan sensor multispektral, analisis vegetasi dapat dikembangkan lebih lanjut.

Drone Mapping untuk Perkebunan

Perkebunan dengan area luas dapat memanfaatkan drone untuk monitoring area secara berkala.

Informasi yang dapat diperoleh meliputi:

  • Batas blok.
  • Kondisi vegetasi.
  • Jalan produksi.
  • Saluran drainase.
  • Area terbuka.
  • Perubahan kondisi lahan.

Data tersebut dapat diintegrasikan dengan GIS untuk membangun database spasial perkebunan.

Integrasi Drone Mapping dengan GIS

Data drone akan menjadi lebih bermanfaat apabila diintegrasikan dengan GIS.

Orthomosaic dapat digunakan sebagai basemap.

DSM dan DTM dapat digunakan untuk analisis terrain.

Point cloud dapat digunakan untuk analisis tiga dimensi.

Data tersebut dapat dikombinasikan dengan:

  • Batas administrasi.
  • Jalan.
  • Infrastruktur.
  • Data aset.
  • Data penggunaan lahan.
  • Data survei.

Integrasi tersebut menjadikan drone sebagai salah satu sumber data dalam ekosistem GIS.

Untuk memahami bagaimana Drone Mapping terhubung dengan berbagai teknologi geospasial lainnya, peserta dapat membaca Bimtek GIS 2026–2027: GIS Dasar, Advanced GIS, Remote Sensing, Drone Mapping, GeoAI, 3D GIS, Digital Twin, WebGIS, Smart City, dan Spatial Data Science.

Integrasi Drone Mapping dengan 3D GIS

Point cloud, DSM, DTM, mesh, dan model 3D dapat digunakan untuk membangun visualisasi tiga dimensi.

3D GIS memungkinkan pengguna melihat:

  • Elevasi.
  • Bangunan.
  • Terrain.
  • Infrastruktur.
  • Timbunan.
  • Perubahan permukaan.

Hal ini sangat berguna untuk perencanaan kawasan dan monitoring infrastruktur.

Drone Mapping Menuju Digital Twin

Produk drone juga dapat menjadi sumber data untuk Digital Twin.

Misalnya suatu kawasan industri dipetakan menggunakan drone.

Hasilnya dapat menghasilkan:

  • Orthomosaic.
  • Model 3D.
  • DSM.
  • DTM.
  • Point cloud.

Data tersebut dapat dikombinasikan dengan informasi aset, BIM, sensor, dan database untuk membangun representasi digital kawasan.

Dengan pembaruan data secara berkala, model digital dapat digunakan untuk monitoring perubahan.

Software Pengolahan Drone Mapping

Berbagai software dapat digunakan untuk mengolah data fotogrametri.

Contoh yang umum digunakan dalam workflow pemetaan antara lain:

  • Pix4D.
  • Agisoft Metashape.
  • Pix4Dmatic.
  • Platform fotogrametri lainnya.
  • Software GIS untuk analisis lanjutan.

Pemilihan software harus disesuaikan dengan kebutuhan, ukuran dataset, spesifikasi komputer, jenis output, dan workflow organisasi.

Materi Bimtek Drone Mapping yang Direkomendasikan

Program Bimtek dapat disusun dalam beberapa modul.

Modul Materi
Modul 1 Konsep Dasar Drone Mapping
Modul 2 Perencanaan Penerbangan
Modul 3 GSD dan Flight Parameters
Modul 4 Overlap dan Akuisisi Foto
Modul 5 GCP, RTK, dan PPK
Modul 6 Dasar Fotogrametri
Modul 7 Image Alignment
Modul 8 Point Cloud
Modul 9 Orthomosaic
Modul 10 DSM dan DTM
Modul 11 Kontur dan Terrain Analysis
Modul 12 Perhitungan Volume
Modul 13 Cut and Fill
Modul 14 Integrasi Drone dan GIS
Modul 15 Studi Kasus

Materi dapat disesuaikan dengan sektor pekerjaan peserta.

Output yang Diharapkan dari Bimtek Drone Mapping

Peserta diharapkan mampu:

  • Menyusun rencana penerbangan.
  • Memahami parameter pemetaan.
  • Memahami GSD dan overlap.
  • Memahami GCP, RTK, dan PPK.
  • Mengolah foto udara.
  • Menghasilkan orthomosaic.
  • Menghasilkan point cloud.
  • Menghasilkan DSM.
  • Menghasilkan DTM.
  • Membuat kontur.
  • Menghitung volume.
  • Melakukan cut and fill.
  • Mengintegrasikan hasil dengan GIS.
  • Melakukan quality control terhadap produk pemetaan.

Quality Control dalam Drone Mapping

Quality control merupakan tahap penting yang tidak boleh diabaikan.

Beberapa hal yang dapat diperiksa:

  • Jumlah foto.
  • Kualitas foto.
  • Overlap.
  • Posisi kamera.
  • GCP.
  • Check point.
  • Alignment.
  • Point cloud.
  • Orthomosaic.
  • DSM.
  • DTM.
  • Konsistensi koordinat.

Hasil pemetaan sebaiknya diperiksa sebelum digunakan untuk pekerjaan yang membutuhkan tingkat ketelitian tertentu.

Akurasi dan Ketelitian Data

Penting untuk membedakan antara resolusi dan akurasi.

GSD yang kecil menunjukkan kemampuan detail spasial, tetapi tidak otomatis menjamin akurasi posisi.

Akurasi dapat dipengaruhi oleh:

  • Sistem positioning.
  • GCP.
  • Kualitas pengukuran.
  • Kamera.
  • Kondisi medan.
  • Proses fotogrametri.
  • Distribusi titik kontrol.
  • Quality control.

Karena itu, kebutuhan akurasi harus ditentukan sejak awal proyek.

Regulasi dan Aspek Operasional Drone di Indonesia

Penggunaan drone di Indonesia perlu memperhatikan ketentuan penerbangan dan keselamatan yang berlaku.

Karena regulasi dapat berubah dan berbeda berdasarkan jenis operasi, wilayah, dan karakteristik penerbangan, peserta sebaiknya selalu merujuk pada sumber resmi pemerintah sebelum melakukan kegiatan operasional.

Informasi resmi mengenai regulasi dan keselamatan penerbangan dapat diperoleh melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Penggunaan drone untuk pemetaan juga perlu memperhatikan kondisi area operasi, keselamatan masyarakat, batasan penerbangan, serta ketentuan lain yang berlaku.

Siapa yang Cocok Mengikuti Bimtek Drone Mapping?

Pelatihan ini cocok bagi:

  • ASN.
  • Pemerintah daerah.
  • Dinas PUPR.
  • Bappeda.
  • Dinas Pertanahan.
  • Dinas Lingkungan Hidup.
  • Dinas Pertanian.
  • Instansi kehutanan.
  • Surveyor.
  • GIS Analyst.
  • Perusahaan pertambangan.
  • Perusahaan perkebunan.
  • Kontraktor.
  • Konsultan.
  • Perguruan tinggi.
  • Peneliti.
  • Tenaga pemetaan.
  • Pengelola aset.

Peserta tidak harus menjadi pilot drone profesional, tetapi akan lebih optimal apabila memiliki dasar pemahaman mengenai pemetaan dan data spasial.

Tips Memilih Bimtek Drone Mapping

Sebelum mengikuti pelatihan, organisasi dapat memperhatikan beberapa hal.

Pilih Materi Berbasis Praktik

Drone Mapping merupakan bidang teknis. Pelatihan sebaiknya memberikan porsi praktik yang memadai.

Gunakan Studi Kasus Nyata

Contoh data pertambangan, infrastruktur, pertanian, perkebunan, atau pemerintahan akan membuat materi lebih relevan.

Bahas Produk Akhir

Peserta sebaiknya memahami tidak hanya proses penerbangan, tetapi juga bagaimana menghasilkan orthomosaic, DSM, DTM, dan volume.

Perhatikan Quality Control

Pelatihan sebaiknya membahas cara mengevaluasi kualitas hasil.

Sesuaikan dengan Kebutuhan Instansi

Workflow untuk pemetaan stockpile berbeda dengan workflow monitoring jalan atau pemetaan aset pemerintah.

FAQ Bimtek Drone Mapping

Apa itu Bimtek Drone Mapping?

Bimtek Drone Mapping adalah pelatihan mengenai pemanfaatan drone untuk pengumpulan foto udara dan pengolahannya menggunakan fotogrametri hingga menghasilkan produk seperti orthomosaic, point cloud, DSM, DTM, kontur, dan data volume.

Apakah Drone Mapping dapat digunakan untuk menghitung volume stockpile?

Ya. Data drone dapat digunakan untuk membuat model permukaan stockpile dan menghitung volume berdasarkan boundary serta permukaan referensi yang sesuai.

Apa perbedaan DSM dan DTM?

DSM merepresentasikan permukaan termasuk objek di atas tanah seperti bangunan dan vegetasi, sedangkan DTM merepresentasikan terrain atau permukaan tanah setelah proses pemisahan objek permukaan sesuai metode pengolahan.

Apakah hasil Drone Mapping dapat digunakan dalam GIS?

Ya. Orthomosaic, DSM, DTM, point cloud, kontur, dan berbagai produk lainnya dapat diintegrasikan dengan GIS untuk analisis spasial dan pemetaan lanjutan.

Kesimpulan

Bimtek Drone Mapping untuk Pemetaan, Orthomosaic, DSM, DTM, dan Perhitungan Volume memberikan dasar kompetensi yang penting bagi organisasi yang ingin memanfaatkan drone sebagai sumber data geospasial beresolusi tinggi.

Drone Mapping tidak hanya berkaitan dengan menerbangkan drone dan mengambil foto. Workflow yang lengkap mencakup perencanaan penerbangan, penentuan GSD, pengaturan overlap, positioning, GCP atau teknologi RTK/PPK, pengolahan fotogrametri, quality control, hingga menghasilkan produk pemetaan.

Produk seperti orthomosaic, point cloud, DSM, dan DTM dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pemetaan aset, monitoring konstruksi, topografi, pertambangan, perkebunan, pertanian, hingga perhitungan volume stockpile dan cut and fill.

Lebih jauh lagi, data drone dapat diintegrasikan dengan GIS, Remote Sensing, 3D GIS, GeoAI, WebGIS, dan Digital Twin untuk membangun sistem informasi geospasial yang lebih komprehensif.

Dengan pelatihan yang berbasis praktik dan studi kasus, peserta dapat memahami alur kerja Drone Mapping secara lebih menyeluruh serta mengembangkan kemampuan untuk menghasilkan data spasial yang dapat digunakan dalam pekerjaan profesional.

Daftar sekarang dan jadwalkan pelatihan terbaik untuk instansi Anda!

0822-8654-5726

www.studigis.com

author-avatar

Tentang STUDIGIS

PT. Pusat Studi dan Konsultasi Nasional adalah perusahaan nasional yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM), teknologi informasi dan Pelatihan GIS, berkedudukan di Jakarta Pusat. Sejak awal berdiri, perusahaan ini memiliki komitmen kuat untuk mendukung peningkatan kualitas dan kapasitas individu maupun organisasi melalui pelatihan profesional, pendampingan teknis, serta konsultasi strategis.